Runtuhnya Negara Adidaya
Oleh: M Husni Mubarok – MHM
sorot24.id | JAKARTA – Sejarah baru telah tertulis dengan Indah diatas Drone tanpa awak milik Iran yang membuat Israel gelap gulita dan Amerika mengalami kerugian finansial . Kehilangan harga diri sebagai Polisi Dunia yang tidak bisa dihitung oleh alat penghitung (Baca : Kalkulator) secanggih apapun. Amunisi bisa dibuat kembali, tetapi harga diri tidak bisa dibeli. Sabtu, 10 Ramadhan 1447 Hijriyah bertepatan 28 Februari 2026 adalah hari kebangkitan bangsa Persia karna Amerika dan Israel – salah memilih lawan – . Meninggalnya Mendiang Ayatullah Ali Khumaieni dalam serangan presisi secara titik koordinat tetapi meleset membaca psikologis pejabat, IRGC dan rakyat dibawah pemerintahan Teokrasi Iran, sehingga serangan sporadis tanpa perhitungan tepat yang dilakukan Israel dan Amerika terhadap Iran, adalah Kecerobohan paling brutal sepanjang sejarah. Kalkulasi para intelijen Mosad dan CIA serta analisis para pakar tak mampu membaca kekuatan bawah tanah Iran. Hari ini, Senin 6 April 2026,Iran telah meluncurkan serangan balasan hampir ke – 100 kalinya. Pernyataan emosional presiden Amerika Donald Trump bahwa perang dengan Iran hanya akan selesaiĀ 4 (empat) hari ternyata menjadi bahan bullying publik Intenasional karna sampai tulisan ini dibuat, Iran tetap tampil sebagai negara dan bangsa paling gebat di dunia.
40 tahun lebih Embargo terhadap Iran yang dilakukan Amerika, membuat dunia berpikir ulang bahwa Amerika dan Israel adalah negara pencetak ilusi dan cerita fiksi terhebat didunia.
Kehebatan Amerika dan Israel hanyalah dongeng pengantar tidur dengan Judul “MACAN KERTAS” dari Laut Atlantik dan Benua Asia Timur Tengah.
Siapakah Iran ?
Iran bukan bangsa Arab. Mereka adalah bangsa Parsi, sebuah peradaban tua yang telah berdiri jauh sebelum lahirnya banyak kekuatan besar di dunia modern. Ditengah arus globalisasi dan perubahan zaman, Iran tetap memelihara kesadaran sejarah bahwa mereka bukan sekadar sebuah negara, melainkan pewaris tamadun besar yang pernah memimpin dunia melalui kekuasaan, ilmu, strategi, seni, dan budaya.
Bangsa Iran berasal dari rumpun Indo-Iran atau Indo-Eropa, sedangkan bangsa Arab berasal dari rumpun Semitik. Bahasa utama mereka adalah Parsi, bukan Arab. Perbedaan ini bukan sekadar soal bahasa, tetapi juga soal akar peradaban, cara hidup, dan identitas kebangsaan. Karena itu, meskipun Iran hari ini dikenal sebagai negara Islam, identitas nasional mereka tetap bertumpu kuat pada warisan Persia kuno yang sangat kaya dan berpengaruh.
Dalam sejarah, Persia pernah menjadi salah satu poros utama dunia. Mereka membangun kekaisaran besar yang bukan hanya luas secara wilayah, tetapi juga kuat secara sistem pemerintahan, administrasi, diplomasi, dan strategi militer. Pada masa lampau, dunia Timur bahkan pernah didominasi oleh dua kuasa besar, yaitu Rom Byzantium dan Empayar Parsi Sassaniyah. Ini menunjukkan bahwa Persia bukan sekadar bagian kecil dari sejarah, melainkan salah satu penentu arah peradaban dunia.
Kebesaran Persia tidak berhenti ketika Islam datang. Sebaliknya, bangsa Parsi justru menjadi salah satu tulang belakang dalam pembentukan Tamadun Islam yang agung. Banyak tokoh besar yang mewarnai sejarah intelektual Islam lahir dari wilayah Persia atau dipengaruhi kuat oleh tradisi keilmuan mereka. Nama-nama seperti Imam Al-Ghazali, Al-Farabi, Ibnu Sina, Jalaludin Rumi dan Imam Al-Bukhari dan masih banyak lainnya menjadi bukti bahwa dunia Islam dibangun bukan hanya oleh kekuatan Arab, tetapi juga oleh kejayaan intelektual bangsa Parsi. Dalam bidang filsafat, kedokteran, logika, hadis, teologi, sastra, dan sains, kontribusi Persia begitu besar dan tak tergantikan.
Inilah sebabnya Iran memiliki kebanggaan yang sangat kuat terhadap sejarah mereka. Kebanggaan itu bukan dibangun di atas emosi kosong, tetapi di atas memori panjang tentang siapa mereka dan apa yang telah diwariskan leluhur mereka kepada dunia. Mereka menjaga bahasa, puisi, seni, arsitektur, simbol, dan semangat peradaban itu sebagai bentuk penghormatan terhadap akar bangsa mereka sendiri.
Iran menunjukkan bahwa sebuah bangsa akan tetap kuat selama ia tidak kehilangan identitasnya. Mereka membuktikan bahwa modernitas tidak harus menghapus tradisi, dan kemajuan tidak harus membuang warisan. Justru bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu membawa masa lalunya ke dalam masa depan dengan penuh martabat.
Sebab itu, Iran hari ini tidak hanya mempertahankan wilayah dan kekuasaan, tetapi juga mempertahankan kehormatan sejarahnya. Mereka hidup dengan keyakinan bahwa bangsa yang mengenal akar peradabannya akan lebih sulit ditundukkan oleh zaman.
Iran tidak sekadar bertahan sebagai negara, tetapi berdiri sebagai pewaris peradaban. Mereka menjaga akar, memuliakan sejarah, dan membuktikan bahwa martabat bangsa lahir dari warisan yang tidak dilupakan.
red24





