Legenda AC Milan Marco van Basten saat masih aktif bermain periode 1987-1995. Ia nyaris diculik penjahat kelas kakap Renato Vallanzasca yang ternyata fans berat Rossoneri. Foto: Dok. AC Milan/Getty Images

sorot24.id | MILAN – Sebuah pengakuan mengejutkan datang dari dunia kriminal Italia. Marco van Basten, legenda AC Milan, ternyata pernah menjadi target penculikan oleh penjahat kelas kakap pada masa jayanya 1987-1995.

Hal itu diungkap Giampaolo Manca, mantan narapidana, dalam wawancara dengan harian _Corriere della Sera_. Manca mengaku mendapat cerita langsung dari Renato Vallanzasca, penjahat paling ditakuti di Italia, saat keduanya mendekam bersama di penjara.

“Vallanzasca sering menceritakan detail kejahatan dan rencananya kepada saya,” kata Manca. Salah satunya adalah rencana menculik Van Basten saat sang striker masih membela AC Milan.

Selama berbulan-bulan, Van Basten diintai oleh Vallanzasca dan anak buahnya. Namun rencana itu dibatalkan pada menit-menit terakhir. Alasannya unik: Vallanzasca takut AC Milan kehilangan bintang utamanya dan justru menguntungkan rival sekota, Inter Milan.

“Akhirnya dia membatalkannya karena tidak ingin memberi keuntungan bagi Inter,” ujar Manca. Jika Van Basten tidak berstatus bintang AC Milan, hasilnya mungkin berbeda.

Vallanzasca sendiri bukan penjahat sembarangan. Ia dikenal kejam dan terlibat banyak perampokan bersenjata, pembunuhan, dan penculikan. Ia dijatuhi hukuman empat kali seumur hidup plus 295 tahun penjara. Total ia menghabiskan 52 tahun di balik jeruji, tulis _De Telegraaf_.

“Kami bisa akur satu sama lain, karena dia sama seperti saya, pendukung AC Milan,” kata Manca soal persahabatannya dengan Vallanzasca. “Dia mengaku telah menyiapkan rencana menculik Marco van Basten dan meminta tebusan.”

Antara 1987 dan 1995, Van Basten adalah bintang dunia di AC Milan. Di bawah kepemimpinannya, Rossoneri meraih segudang trofi. Seandainya penculikan itu terjadi, dampaknya akan mengguncang dunia olahraga.

Sumber Primer : Wawancara Giampaolo Manca dengan harian _Corriere della Sera_[Italia]

red24

Pelatih Como 1907 Cesc Fabregas menenangkan pemainnya usai laga Serie A 2025/2026. Di bawah Fabregas, Como dari tim promosi melesat ke zona Eropa. Antonio Cassano menyebut Fabregas “terlalu jago” untuk sepak bola Italia. (Dok:AFP/PIERO CRUCIATTII mages/Sorot24.id)

sorot24.id|MILAN – Legenda sepak bola Italia Antonio Cassano melontarkan pernyataan mengejutkan soal Cesc Fabregas. Mantan striker Inter Milan itu justru berharap pelatih Como 1907 segera meninggalkan Serie A karena dianggap “terlalu jago” untuk sepak bola Italia.

Sejak ditangani Cesc Fabregas, Como 1907 menjelma dari tim promosi menjadi kuda hitam Serie A. Skuad yang didominasi pemain muda itu kini dipastikan finis enam besar dan minimal tampil di Liga Konferensi Eropa musim depan.

Meski cemerlang, Fabregas justru diminta pergi oleh Antonio Cassano. “Saya sejujurnya berharap dia bisa meninggalkan Italia. Soalnya negara ini tidak pantas mendapatkan dia, kita adalah bahan tertawaan,” ujar Cassano dikutip dari _Calciomercato_.

“Sepak bola di sini terkatung-katung, saya berharap dia bisa pergi,” tambahnya.

Cassano menilai peran Fabregas sangat krusial membawa Como jadi tim besar. “Pekerjaan yang dilakukan Fabregas telah membuat Como menjadi sebuah tim besar. Dengan pelatih lain, Como tidak akan meraih hasil seperti ini,” katanya.

“Kemampuan komunikasinya, keahliannya. Dia pernah menjadi pemain top dan sebagai pelatih, dia sudah menjadi fenomena yang sensasional. Perekat paling penting adalah pelatihnya, 95% pemain Como harus berterima kasih kepada Cesc,” tegas eks Real Madrid itu.

Bagi Cassano, Fabregas adalah pelatih berkualitas yang jarang ditemukan di Italia. Meski kontrak Fabregas di Como berlaku hingga 2028, sejumlah klub top Eropa dikabarkan tertarik merekrutnya.

Namun, Fabregas berulang kali menyatakan kesetiaannya. “Saya masih punya 30 tahun lagi dalam karier saya, jadi bisa tetap di Como selama 10 tahun lagi dan pindah ke Premier League dalam 12 atau 15 tahun lagi,” ucapnya dikutip _TuttoMercatoWeb_.

“Jadi mari nikmati saja momen ini. Apa yang kami alami di Como sangat indah. Mari kita lihat apa yang akan terjadi di masa depan,” tandas Fabregas.

Keberhasilan Como mengamankan tiket Eropa musim depan jadi prestasi besar dalam sejarah klub. Sejak promosi ke Serie A musim lalu, _I Lariani_ perlahan membuktikan kualitasnya hingga mampu bersaing di papan atas.

red24