Opini  

AKU GELISAH : Saku ku Saku mu Saku ku Bolong Saku mu Tertutup Rapat

Hendra Primitif,Aktivis Sosial dan Pemerhati Kebijakan Publik. foto/dok : pribadi. {red24}

AKU GELISAH : Saku ku Saku mu Saku ku Bolong Saku mu Tertutup Rapat

Oleh : Hendra Primitif {Aktivis Sosial dan Pemerhati Kebijakan Publik}

sorot24.id | TANGERANG – Di tengah berbagai capaian pembangunan yang terus disampaikan kepada publik, ada satu hal yang tidak boleh luput dari perhatian, yakni isi kantong saku rakyat.Ukuran keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya dilihat dari banyaknya proyek yang berdiri atau angka-angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan layak.

Cobalah sesekali tinggalkan ruang rapat dan tengok langsung isi dompet rakyat. Di situlah potret kehidupan yang sebenarnya. Jangan sampai pembangunan terlihat megah, tetapi kantong saku masyarakat justru semakin tipis. Jika rakyat mulai menghitung setiap rupiah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, itu adalah alarm yang tidak boleh diabaikan .

Rakyat tidak membutuhkan janji yang berulang-ulang. Yang mereka harapkan adalah kesempatan kerja yang layak, harga kebutuhan pokok yang terjangkau, pelayanan publik yang mudah diakses, serta kebijakan yang benar-benar berpihak kepada kepentingan masyarakat.

Keberhasilan pembangunan bukan hanya tentang pembangunan fisik, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat dapat menjalani hidup dengan lebih tenang. Ketika penghasilan mampu memenuhi kebutuhan keluarga, dapur tetap mengepul, anak-anak dapat bersekolah dengan baik, dan orang tua tidak lagi dihantui kecemasan akan biaya hidup, di situlah pembangunan benar-benar dirasakan manfaatnya.

Wahai para pejabat dan seluruh pemangku kebijakan untuk sesekali mendengar lebih dekat suara rakyat, bukan hanya melalui laporan di atas meja, tetapi dengan melihat langsung kehidupan mereka.

Di balik wajah yang tetap tersenyum, ada banyak kepala keluarga yang memikul beban ekonomi, ada ibu-ibu yang berjuang mengatur uang belanja agar cukup hingga akhir bulan, dan ada anak-anak yang menggantungkan masa depan pada kerja keras orang tuanya.

Kepekaan dan empati adalah bagian dari amanah jabatan. Ketika hati mampu merasakan apa yang dirasakan rakyat, maka kebijakan yang lahir akan lebih bijaksana dan berpihak kepada masyarakat.

Kondisi ekonomi saat ini harus menjadi bahan evaluasi bersama. Pemerintah pusat dan daerah perlu memperkuat penciptaan lapangan kerja, mendorong pertumbuhan UMKM, menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta memastikan setiap anggaran yang dikeluarkan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Ketika kantong saku rakyat menipis, saatnya hati nurani pemimpin berbicara dan menghadirkan solusi. Rakyat tidak meminta kemewahan, mereka hanya ingin hidup yang layak, pekerjaan yang memberi harapan, serta kebijakan yang mampu meringankan beban mereka. Seorang pemimpin akan dikenang bukan karena banyaknya pidato atau megahnya pembangunan, tetapi karena keberaniannya mendengar keluh kesah rakyat dan menghadirkan solusi yang nyata. Di situlah arti sesungguhnya sebuah pengabdian.

red24

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *