S i n e r g i s i t a s  K o p e r a s i

Oleh : M Husni Mubarok-MH

sorot24.id | Pada tahun 1994 Alm. KH Abdurrahman Wahid memanggil Kyai Manarul Hidayah. Ketika itu Gus Dur memerintahkan Kyai Manarul agar mendirikan Koperasi khusus untuk Pesantren, dengan syarat Koperasi tersebut tidak boleh diberikan kepada Kyai Pimpinan Pondok Pesantren dalam Pengelolaannya, tetapi harus diberikan kepada Putra sang Kyai yang minimal lulusan S 1.

Begitulah sekilas sejarah berdirinya Induk Koperasi Pesantren yang hari ini dinahkodai oleh Prof. DR. KH Aqil Siraj sebagai Ketua Dewan Pembina dan Dr. KH Mashudi Suud sebagai Ketua umum.

Pada perjalanannya Induk Koperasi Pesantren (Inkopotren) tersebut pernah mengalami “Layu sebelum Berkembang”, karna faktor minimnya Perhatian Pemerintahan orde baru ketika itu.

Namun dengan semangat juang yang tinggi, para petinggi NU masa itu melakukan langkah – langkah strategis sehingga Induk Koperasi Pesantren tetap eksis sampai hari ini.

Pada tanggal 20 – 21 Mei 2026 Induk Koperasi Pesantren merumuskan Progam jangka Pendek, Menengah dan jangka panjang dikemas secara konstruktif melalui Rapat Kerja Nasional Induk Koperasi Pesantren digedung Smesco Jakarta yang dihadiri oleh Pengurus Inkopotren seluruh Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Pembina Ikopontren Prof. DR KH Said Aqil Siraj menekankan agar Pesantren tidak dijadikan sebagai Kuburan bagi Koperasi. Santri dan Para Putra Putri Pimpinan Pondok Pesantren harus cerdas secara spiritual dan cerdas secara intelektual dalam menghadapi Perkembangan zaman, sehingga dapat mengelola Inkopotren secara profesional.

Pada kesempatan yang sama Ketua Umum Inkopotren Dr. KH Mashudi Suud menghimbau agar santri harus mampu bersaing secara konstruktif untuk menjadi orang Kaya yang Berkah dan dermawan, lebih baik tangan diatas, dari pada tangan dibawah.

Peserta Rakernas mengharapkan agar Keberadaan Koperasi Merah Putih Gagasan Presiden Prabowo Subianto dapat bekerja sama dengan baik , sinergi dalam membangun Bangsa melalui Koperasi unsur manapun terlebih Induk Koperasi Pesantren.

red24

Puluhan mahasiswa BEM Universitas Muhammadiyah Tangerang membentangkan spanduk bertuliskan “KAMI TIDAK LUPA, KAMI TIDAK TAKUT, KEKUASAAN MELAWAN” saat aksi unjuk rasa memperingati Hari Reformasi di depan Taman Gajah, Kota Tangerang, Kamis (21/5/2026). dok:botay/molly/sorot24.id

sorot24.id|Tangerang – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Tangerang (BEM UMT) menggelar aksi unjuk rasa memperingati Hari Reformasi di depan Taman Gajah, Jl. Taruna Raya, Kelurahan Babakan, Kecamatan Tangerang, Kamis (21/5/2026) sore.

Aksi yang dimulai pukul 17.00 WIB tersebut diikuti sekitar 25 orang dengan koordinator lapangan Fajar, Presiden Mahasiswa BEM UMT. Massa membawa sejumlah atribut berupa TOA, spanduk, poster, hingga ban.

Dalam orasinya, Presma BEM UMT Fajar menegaskan aksi ini sebagai pengingat runtuhnya Orde Baru dan alarm bagi pemerintah. “Kita ingin memberikan kesadaran kepada masyarakat karena kesewenangan pemerintah.

Disini terjadi perampasan ruang hidup, ada pembangunan berkedok penjajah, berkedok pangan dan iming-iming pekerjaan, namun itu semua ada perampasan tanah oleh orang besar dengan korporasi penjajahan modern,” ujar Fajar.

Mahasiswa BEM Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) melanjutkan aksi malam hari dengan menyalakan lilin dan membakar ban saat unjuk rasa memperingati Hari Reformasi di depan Taman Gajah, Kota Tangerang, Kamis (21/5/2026). Di bawah spanduk bertuliskan “KAMI TIDAK LUPA KAMI TIDAK TAKUT #BEM UMT”, seorang orator menyampaikan tuntutan melalui megaphone. Aksi yang diwarnai pembacaan puisi dan teatrikal ini menyoroti isu oligarki, perampasan lahan, hingga pembungkaman kritik. Aksi berakhir pukul 19.50 WIB dalam keadaan aman dan kondusif.dok:molly/sorot24.id

Massa juga menyoroti isu pagar laut yang disebut masih berlanjut dan dikerjakan oleh Agung Sedayu Group, monopoli bisnis “9 Naga”, hingga kasus pembungkaman aktivis seperti Andre Yunus yang disiram air keras.

Selain orasi, massa membentangkan spanduk bertuliskan “Kekuasaan Melupakan Rakyat” dan “KAMI TIDAK LUPA KAMI TIDAK TAKUT #BEM UMT”. Sejumlah poster tokoh juga dibawa, di antaranya Amien Rais, Fadli Zon, Budiman Sudjatmiko, dan Fahri Hamzah yang fotonya dicoret, serta poster Munir, Widji Thukul, dan Marsinah.

Rangkaian aksi diisi dengan pembacaan press release, sumpah mahasiswa, pembacaan puisi, menyalakan lilin, teatrikal, hingga pembakaran ban pada pukul 18.40 WIB meski sempat diimbau aparat untuk tidak dilakukan.

Jajaran personel Polres Metro Tangerang Kota dan Polsek Tangerang melakukan apel konsolidasi pengamanan usai aksi unjuk rasa BEM Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) memperingati Hari Reformasi di depan Taman Gajah, Kota Tangerang, Kamis (21/5/2026) malam. Dipimpin Kapolsek Tangerang Kompol Suyatno, SH, MH, pengamanan melibatkan 8 personel kepolisian, 2 personel Kodim 0506/Tgr, dan 1 personel Kesbangpol. Aksi yang berlangsung sejak pukul 17.00 WIB tersebut berakhir pukul 19.50 WIB dalam keadaan aman dan tertib.dok: botay-molly/sorot24.id

Pengamanan dilakukan oleh 8 personel Polres Metro Tangerang Kota dan Polsek Tangerang dipimpin Kapolsek Kompol Suyatno, SH, MH, 2 personel Kodim 0506/Tgr, dan 1 personel Kesbangpol Kota Tangerang. Turut hadir Kabag Ops AKBP Bayu Suseno dan Kasat Reskrim AKBP Parikhesit di lokasi.

Aksi berakhir pukul 19.50 WIB. Massa membubarkan diri dengan tertib. Apel konsolidasi pengamanan dipimpin Kapolsek Tangerang pukul 19.55 WIB. “Kegiatan pelayanan aksi unjuk rasa berjalan aman dan tertib,” demikian laporan petugas.

red24molly

Menelusuri Jejak Keturunan Ki Mauk Putra Bangsawan Banten yang ber Ibu Putri Tionghoa

Oleh : Kang Hamdan Nata Baschara
Ketum Waruga Wangsa Dan
Penggiat Sejarah, Budaya Tangerang

sorot24.id | TANGERANG – Pesisir utara Tangerang sejak dahulu dikenal sebagai wilayah yang menjadi titik pertemuan berbagai budaya.Dahulu daerah tersebut dikenal Muara yang wilayahnya sekarang Kosambi sampai wilayah Kronjo. Jalur perdagangan yang ramai membuat kawasan ini didatangi banyak pendatang dari berbagai daerah dan bangsa.

Di tengah dinamika sejarah tersebut, masyarakat masih menyimpan kisah tentang seorang tokoh yang dipercaya memiliki peran penting dalam perkembangan wilayah Mauk dan sekitarnya, yakni Ki Mawuk.

Berdasarkan keterangan salah satu keturunannya kang lihin bahwa Ki Mawuk yang memiliki nama bangsawan Pangeran Daka dan memiliki nama tionghoa lie Manwoek adalah Sosok putra bangsawan Banten keturunan Pangeran Muhammad Chan/Pangeran Mawuk yang menikah dengan Cie lie Ning Roudhoh Can binti Bukhori Ning Chan, Pangeran Muhammad Chan/Pangeran Mawuk adalah putra Pangeran Arya Abdul Alim yang menikahi Putri Arya Yudhanegara / AriaTanggeran II, Nyi Rade Ratna Komala.

Nama Ki Mawuk hingga kini tetap hidup dan melekat menjadi identitas salah satu Kecamatan di Kabupaten Tangerang, yaitu Mauk. Bagi masyarakat setempat, nama itu bukan sekadar penanda wilayah, melainkan simbol sejarah panjang tentang perjuangan, kepemimpinan, dan percampuran budaya yang telah berlangsung selama ratusan tahun di pesisir utara Tangerang, hal tersebut diperkuat oleh pengakuan dari salah satu pengurus kenadziran Maulana Yusuf Kasunyatan, Tubagus syafarudin yg dikenal ntus plituk.

Cerita mengenai Ki Mauk diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan. Masyarakat tua di kawasan pesisir percaya bahwa Ki Mauk merupakan keturunan bangsawan atau pejabat penting Kesultanan Banten yang diberi tugas membantu ayahnya menjaga wilayah pesisir utara dari ancaman luar.

Pada masa itu, pesisir Tangerang menjadi jalur strategis perdagangan sekaligus pintu masuk bagi bangsa asing yang datang ke Pulau Jawa.

Kesultanan Banten sendiri dikenal sebagai kerajaan maritim besar yang memiliki hubungan dagang luas dengan berbagai negara, termasuk pedagang dari Tiongkok, Arab, India, hingga Eropa.

Aktivitas perdagangan di pelabuhan Banten menciptakan hubungan sosial yang erat antara masyarakat lokal dengan komunitas pendatang. Dari hubungan inilah muncul berbagai bentuk akulturasi budaya, termasuk pernikahan antar etnis.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat dan para keturunannya bahwa Ki Mawuk menikahi seorang putri dari keluarga Tionghoa terpandang yang memiliki pengaruh dalam perdagangan pesisir yaitu Cie Liening Roudhoh Chan Binti Bukhori Ning Chan, dari sinilah gelar Marga Chan yang diambil dari marga istrinya.

Keluarga sang putri disebut-sebut memiliki hubungan erat dengan jaringan perdagangan di wilayah Banten dan Batavia. Pernikahan tersebut dianggap sebagai simbol persatuan antara kalangan bangsawan Banten dengan komunitas Tionghoa yang saat itu mulai berkembang di kawasan pesisir utara Jawa.

Kisah ini memperlihatkan bahwa hubungan masyarakat Banten dengan etnis Tionghoa pada masa lalu tidak selalu dipenuhi konflik seperti yang sering digambarkan dalam sejarah kolonial. Sebaliknya, hubungan itu juga diwarnai kerja sama ekonomi, persaudaraan, hingga ikatan keluarga. Di wilayah pesisir Tangerang, percampuran budaya tersebut bahkan melahirkan identitas masyarakat yang unik.

Jejak akulturasi budaya Banten dan Tionghoa masih dapat ditemukan hingga sekarang di kawasan Mauk dan sekitarnya. Hal itu terlihat dari tradisi masyarakat, kuliner khas pesisir, hingga bahasa sehari-hari yang banyak dipengaruhi unsur Betawi, Sunda Banten, dan Tionghoa. Beberapa keluarga tua di kawasan tersebut juga masih menyimpan cerita tentang leluhur mereka yang dipercaya memiliki hubungan darah dengan Ki Mauk.

Sebagian masyarakat meyakini bahwa keturunan Ki Mauk tersebar di sejumlah desa pesisir utara Tangerang. Garis keturunan itu diwariskan melalui silsilah keluarga yang dijaga secara turun-temurun. Walaupun belum banyak catatan sejarah tertulis yang dapat membuktikan secara detail hubungan tersebut, cerita tentang Ki Mauk tetap menjadi bagian penting dari identitas masyarakat lokal.

Di sejumlah kampung tua, kisah tentang bangsawan Banten yang menikahi putri Tionghoa itu masih sering diceritakan dalam acara keluarga, pengajian, hingga tradisi adat. Cerita tersebut tidak hanya dianggap sebagai sejarah keluarga, tetapi juga sebagai simbol keharmonisan masyarakat pesisir yang sejak dahulu hidup dalam keberagaman.

Selain dikenal sebagai tokoh bangsawan, Ki Mauk juga dipercaya memiliki peran penting dalam menjaga pertahanan wilayah pesisir Banten. Pada masa kolonial, wilayah Tangerang utara menjadi daerah yang rawan konflik karena berada di jalur strategis antara Banten dan Batavia. Banyak tokoh lokal yang berusaha mempertahankan wilayah tersebut dari pengaruh penjajah.

Masyarakat pesisir percaya bahwa Ki Mauk termasuk salah satu tokoh yang ikut menjaga wilayah utara Banten dari ancaman luar. Karena itu, namanya dikenang sebagai sosok pemberani sekaligus pemimpin masyarakat. Hingga kini, makam yang terletak di Tanara dipercaya berkaitan dengan tokoh tersebut masih sering diziarahi warga, terutama pada waktu-waktu tertentu, masyarakat sekitar mengenalnya dengan Ki Buyut Jenggot.

Kisah tentang Ki Mauk juga mencerminkan bagaimana budaya pesisir terbentuk dari proses panjang pertemuan berbagai etnis. Di kawasan Tangerang utara, masyarakat pribumi, Tionghoa, Arab, dan pendatang lain hidup berdampingan sejak masa perdagangan maritim berkembang pesat. Interaksi tersebut melahirkan budaya baru yang khas dan berbeda dengan wilayah pedalaman.

Dalam kehidupan sehari-hari, pengaruh budaya Tionghoa di pesisir Tangerang dapat terlihat dari berbagai tradisi masyarakat. Beberapa makanan khas, bentuk rumah tua, hingga tradisi perayaan tertentu memperlihatkan adanya perpaduan budaya yang telah berlangsung lama. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara masyarakat lokal dan komunitas Tionghoa telah menjadi bagian penting dalam sejarah perkembangan Tangerang.

Namun seiring perkembangan zaman, banyak generasi muda yang mulai tidak mengenal sejarah lokal di daerahnya sendiri. Kisah tentang Ki Mauk perlahan mulai jarang dibicarakan, terutama di tengah derasnya arus modernisasi dan pembangunan wilayah pesisir. Padahal sejarah lokal memiliki nilai penting untuk memperkuat identitas budaya masyarakat.

Para tokoh masyarakat dan pegiat sejarah lokal kini mulai mendorong upaya pelestarian sejarah Ki Mauk dan warisan budaya pesisir Tangerang. Mereka berharap cerita tentang bangsawan Banten yang menikahi putri tokoh Tionghoa ini dapat menjadi bagian dari pendidikan sejarah lokal bagi generasi muda. Dengan memahami sejarah daerahnya, masyarakat diharapkan lebih menghargai keberagaman budaya yang telah diwariskan leluhur mereka.

Selain itu, kisah Ki Mauk juga mengandung pesan penting tentang toleransi dan persatuan. Pernikahan antara bangsawan Banten dengan putri Tionghoa pada masa lalu menunjukkan bahwa hubungan antar etnis dapat terjalin harmonis melalui rasa saling menghormati dan kerja sama. Nilai-nilai tersebut masih relevan untuk kehidupan masyarakat Indonesia saat ini yang hidup dalam keberagaman budaya dan agama.

Menelusuri jejak keturunan Ki Mauk bukan hanya soal mencari hubungan darah atau silsilah keluarga. Lebih dari itu, perjalanan sejarah ini menjadi cara untuk memahami akar budaya masyarakat pesisir Tangerang yang terbentuk dari perpaduan berbagai tradisi dan bangsa. Kisah tersebut juga menjadi pengingat bahwa keberagaman telah menjadi bagian dari sejarah panjang Nusantara sejak dahulu.

Di tengah perubahan zaman yang terus berlangsung, cerita tentang Ki Mauk tetap hidup dalam ingatan masyarakat pesisir utara Tangerang. Nama itu bukan hanya simbol sejarah, tetapi juga lambang persaudaraan lintas budaya yang pernah tumbuh kuat di tanah Banten. Dari pesisir Mauk, masyarakat belajar bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk membangun hubungan yang harmonis, melainkan kekuatan yang dapat memperkaya identitas dan warisan budaya bersama.

Sumber : Ikhtisar Riwayat Keluarga Waruga Wangsa dan sejarah Kabupaten Tangerang

red24

Aktivis pemerhati kebijakan publik Hendra Primitif. Hendra mengajak masyarakat membangun kesadaran sosial mulai dari menjaga kebersihan dan ketertiban lingkungan

sorot24.id | TANGERANG — Aktivis pemerhati kebijakan publik, Hendra Primitif, mengajak masyarakat untuk membangun kesadaran sosial mulai dari hal-hal kecil di lingkungan sekitar.

Menurut Hendra, kepedulian bersama terhadap kebersihan, ketertiban, dan kenyamanan lingkungan menjadi kunci terciptanya kehidupan masyarakat yang sehat dan harmonis.

“Persoalan lingkungan saat ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Peran aktif masyarakat juga dibutuhkan, mulai dari membuang sampah pada tempatnya hingga menjaga ketertiban lingkungan,” kata Hendra di Kabupaten Tangerang, Senin.

Hendra menilai, kepedulian sederhana yang dilakukan bersama-sama akan berdampak besar bagi kehidupan bermasyarakat. Ia menyebut, budaya gotong royong dan rasa peduli antarwarga perlu terus ditumbuhkan di tengah kehidupan modern.

“Lingkungan yang bersih dan nyaman akan berdampak positif pada kesehatan, keamanan wilayah, hingga hubungan sosial yang harmonis,” ujarnya.

Lebih lanjut, Hendra berharap pemerintah daerah memperkuat program edukasi lingkungan dan berkolaborasi dengan masyarakat dalam menjaga fasilitas umum serta ketertiban lingkungan.

“Kepedulian kecil yang dilakukan bersama akan menciptakan lingkungan yang sehat, aman, dan tertib. Kalau kesadaran sosial terus dibangun, beban persoalan di masyarakat juga akan berkurang,” kata dia.

Kepedulian Kecil Mampu Ciptakan Lingkungan Sehat dan Nyaman

Oleh : Hendra Primitif (Pemerhati Kebijakan Publik)

sorot24.id | TANGERANG – Pemerhati Kebijakan Publik Hendra Primitif mengajak masyarakat untuk membangun kesadaran sosial dimulai dari hal-hal kecil di lingkungan sekitar.

Menurutnya, kepedulian bersama terhadap kebersihan, ketertiban, dan kenyamanan lingkungan menjadi langkah penting dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang sehat dan harmonis.

Hendra Primitif menilai, berbagai persoalan lingkungan yang terjadi saat ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat.

Mulai dari menjaga kebersihan, membuang sampah pada tempatnya, hingga menjaga ketertiban lingkungan merupakan bentuk kepedulian sederhana yang memiliki dampak besar bagi kehidupan bersama.

Kepedulian kecil yang dilakukan bersama akan menciptakan lingkungan yang sehat, aman, dan tertib. Mari bangun kesadaran sosial demi kenyamanan bersama .

Ia juga menegaskan bahwa budaya gotong royong dan rasa peduli antar warga perlu terus ditumbuhkan di tengah kehidupan masyarakat modern saat ini. Menurutnya, lingkungan yang bersih dan nyaman akan berdampak positif terhadap kesehatan masyarakat, keamanan wilayah, hingga terciptanya hubungan sosial yang harmonis.

Selain itu, Hendra berharap pemerintah daerah dapat terus mendorong program edukasi lingkungan dan memperkuat kolaborasi dengan masyarakat dalam menjaga fasilitas umum serta ketertiban lingkungan.

Ketika kepedulian sosial terus dibangun, maka beban persoalan di masyarakat juga akan berkurang. Lingkungan yang nyaman lahir dari kesadaran bersama.

red24

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang Dr. Wahyudi Iskandar memberikan penjelasan kepada massa Merah Muda Malaka terkait pengadaan Interactive Flat Panel TA 2024.dok: Molly/sorot24.id)

sorot24.id| TANGERANG – Kelompok Merah Muda Malaka menggelar aksi unjuk rasa di Kantor Dinas Pendidikan Kota Tangerang, Senin 18/5/2026. Mereka menyoroti proyek pengadaan Interactive Flat Panel Tahun Anggaran 2024 yang diduga bermasalah.

Aksi yang diikuti 7 orang massa ini dipimpin penanggung jawab Sultan Ferdiansyah. Massa tiba di lokasi pukul 13.45 WIB dan diterima audiensi oleh Dinas Pendidikan pukul 14.00 WIB.

Dalam audiensi, perwakilan massa Farhan menyampaikan temuan adanya anggaran yang tidak digunakan oleh sekolah-sekolah.

“Ada beberapa tuntutan yang ada, intinya terkait Pagu 2024, ada anggaran yang tidak digunakan oleh sekolah. Kami menemukan di 156 sekolah masih belum menggunakan alat Interactive Flat Panel. Menurut kami anggaran alat tersebut tidak masuk akal,” kata Farhan.

Perwakilan massa Merah Muda Malaka saat menyampaikan tuntutan dalam audiensi di Kantor Dinas Pendidikan Kota Tangerang, Senin 18/5/2026. (dok: Molly/sorot24)

Massa menuntut aparat penegak hukum dan instansi terkait memeriksa proyek pengadaan tersebut sesuai ketentuan hukum. Mereka juga mendorong transparansi mekanisme pengadaan, penyusunan Harga Perkiraan Sendiri, serta proses penentuan penyedia barang/jasa.

Selain itu, massa meminta Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang Dr. H. Jamaluddin, M.Pd. dan pihak terkait memberikan klarifikasi terbuka kepada masyarakat untuk menjaga kepercayaan publik terhadap pengelolaan anggaran pendidikan.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang Dr. Wahyudi Iskandar, SSTP, ada M.Si menyatakan proyek tersebut sudah diaudit Inspektorat dan BPK.

“Sudah ada audit dari Inspektorat dan BPK pun sudah melakukan audit. Kami berharap setiap sekolah bisa memanfaatkan program yang sudah ada. Intinya semua itu sudah di audit, namun kami berharap agar diberitahu kepada kami, sekolah mana yang menurut kawan-kawan belum ada barang tersebut,” ujar Wahyudi.

Audiensi selesai pukul 14.20 WIB. Massa meninggalkan lokasi pukul 14.30 WIB. Kegiatan berjalan aman dan kondusif hingga apel konsolidasi selesai pukul 14.40 WIB.

Apel pengamanan yang dipimpin Wakapolsek Tangerang AKP Drs. Ponco Anggriyanto di halaman Kantor Dinas Pendidikan Kota Tangerang, Senin 18/5/2026. Apel digelar sebelum pengamanan aksi unjuk rasa kelompok Merah Muda Malaka terkait proyek pengadaan Interactive Flat Panel TA 2024.dok: molly/sorot24id)

Aksi ini dimonitor langsung oleh Polsek Tangerang di bawah pimpinan AKP Drs. Ponco Anggriyanto dan Kompol Suyatno, SH., MH.

(red24- avriyani)

Kolase foto Ketua Umum Madas Nusantara Drs. KRH. HM. Jusuf Rizal, SH, SE, http://M.Si (kiri) dan Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta (kanan). Keduanya hadir dalam pelantikan pengurus DPW Madas Nusantara Provinsi Bali di Gedung PWI Bali, Minggu 17/5/2026.

sorot24.id | Bali — Wakil Gubernur Propinsi Bali, I Nyoman Giri Prasta minta Ormas Masyarakat Madura Asli Nusantara (Madas Nusantara) di Bali dapat menjaga toleransi serta turut membangun Bali dengan mengjawantahkan dan menyukseskan visi Nangun Sad Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru.

“Titiang menyambut baik kehadiran Ormas Madas Nusantara di Bali. Diharapkan Madas Nusantara jangan hanya menjadi organisasi yang ada di atas kertas. Jadilah organisasi yang hidup, yang bergerak di tengah masyarakat, yang hadir memberikan solusi saat ada kesulitan, dan yang menjadi garda terdepan dalam merawat toleransi,” tegas I Nyoman Giri Prasta dalam sambutannya di Bali

Pesan-pesan moral dan himbauan itu disampaikan Wagub Bali, I Nyoman Giri Prasta saat pelantikan pengurus DPW Madas Nusantara Propinsi Bali di Gedung PWI Bali, Minggu (17/05/2026). Pelantikan pengurus DPW Madas Nusantara Bali dilakukan oleh Ketum Madas Nusantara, Drs.KRH.HM.Jusuf Rizal, SH,SE,M.Si dan dihadiri Forkopimda Bali, seperti Kesbangpol, DPRD Bali, Tokoh Masyarakat. Ketua DPW Madas Nusantara Bali adalah Abdul Majid.

Lebih lanjut Wagub Bali, I Nyoman Giri Prasta mengatakan Madas Nusantara memiliki peran strategis sebagaimana tertuang dalam beberapa pilar Sad Kerthi yaitu

Atma Kerthi, setiap anggota Madas Nusantara adalah duta budaya Madura yang kehadirannya akan dinilai dan dirasakan oleh masyarakat Bali. Setiap anggota Madas Nusantara harus menunjukkan perilaku yang jujur, santun, bertanggung jawab, dan menghormati adat dan tradisi setempat.
Jana Kerthi, Madas Nusantara harus menjadi pelindung nyata bagi hak-hak warganya, menjadi suara yang lantang ketika ada ketidakadilan, dan menjadi jembatan yang menghubungkan warga dengan sumber daya yang menjadi hak mereka.

Jagat Kerthi, tercermin ketika Madas Nusantara berhasil menjaga harmoni antara komunitas Madura dan krama Bali. Ketika warga Madura ikut merawat alam dan budaya Bali, ketika persaudaraan lintas suku dan agama tumbuh subur di tanah ini.

“Dengan menanamkan dan menghidupi nilai Sad Kerthi, Madas Nusantara tidak hanya menjadi organisasi suku yang mengurus kepentingan internal warganya, tetapi ia juga akan tumbuh menjadi kekuatan moral yang berkontribusi nyata pada peradaban Bali secara keseluruhan,” tegas Wagub Bali, I Nyoman Giri Prasta yang dibacakan Kesbangpol Propinsi Bali, Aditiana.

Menurut Wagub Bali, I Nyoman Giri Prasta jika menelusuri lorong waktu sejarah, hubungan antara masyarakat Madura dan Bali bukanlah hubungan yang baru kemarin sore. Ia adalah hubungan yang telah teruji oleh zaman, hubungan yang dibangun di atas fondasi rasa saling hormat dan saling membutuhkan. Masyarakat Madura dikenal dengan karakter yang tangguh, jujur, dan memiliki loyalitas yang tak tergoyahkan.

Pelantikan kepengurusan DPW Madas Nusantara Bali, periode 2025-2028 bukanlah sekadar seremonial pertemuan biasa. Ini adalah momentum penting untuk meneguhkan kembali komitmen kebangsaan kita bersama. Bagi Titiang, warga Madura yang ber-KTP Bali dan menetap di Bali bukanlah pendatang, melainkan warga Bali itu sendiri. Saudara-saudara adalah bagian tak terpisahkan dari denyut nadi pembangunan daerah ini. Ingatlah, saudara adalah jembatan yang menghubungkan aspirasi warga dengan kebijakan pemerintah.

“Titiang mengajak Saudara sekalian untuk bersinergi tanpa batas dengan Pemerintah Provinsi Bali. Tantangan kita ke depan tidaklah mudah. Kita menghadapi pergeseran budaya dan tantangan ekonomi global. Oleh karena itu, sinergi antara organisasi masyarakat, tokoh agama, dan tokoh adat adalah kunci. Mari kita jaga Bali ini bersama-sama. Kita jaga taksu Bali dengan tetap memegang teguh jati diri dan warisan leluhur kita masing-masing dalam harmoni yang indah.

“Hentikan segala bentuk gesekan yang tidak perlu. Kedepankan musyawarah dan mufakat. Jadikan Madas Nusantara sebagai teladan organisasi yang santun, bermartabat, namun tetap tegas dalam prinsip menjaga kebenaran,” ujar Wagub Bali I Nyoman Giri Prasta

Titiang berharap keluarga besar Madas Nusantara selalu mampu menjalin komunikasi yang baik dengan seluruh komponen masyarakat Bali. Tunjukkan bahwa kehadiran Madas Nusantara di Bali benar-benar membawa kedamaian, mencegah gesekan sosial, dan menjadi garda terdepan dalam merawat NKRI dari Pulau Dewata.

Atas nama Pemerintah Provinsi Bali dan masyarakat Bali, Titiang mengucapkan Selamat dan Sukses atas dilantiknya Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah Bali Madas Nusantara Periode 2025-2028, tegas Wagub Bali I Nyoman Giri Prasta

Sementara Ketum Madas Nusantara KRH.HM.Jusuf Rizal dalam sambutannya menekankan agar Madas Nusantara dapat menjadi rumah besar bagi warga Madura di Propinsi Bali sebagaimana programnya Bina,Lindung, Sejahtera. Selaku mitra pemerintah, TNI dan Polri harus turut Membangun Indonesia dan Menjaga Negeri, khususnya di propinsi Bali.

“Ormas Madas Nusantara tidak boleh arogan, tapi harus mampu menjaga sikap punya adab, etika dan moral yang baik. Prinsipnya di mana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Ormas Madas Nusantara bukan ormas preman, tapi ormas yang membangun sumberdaya manusia berkualitas guna mempersiapkan Generasi Emas 2045,” tegas Jusuf Rizal, Relawan Prabowo keturunan Raja Sumenep, Arya Wiraraja itu

Lenih jauh, pria berdarah Madura-Batak, Presiden LSM LIRA (Lumbung Informasi Rakyat) dan Ketum PWMOI (Perkumpulan Wartawan Media Online Indonesia) itu berpesan kepada pengurus DPW Madas Nusantara Bali agar melakukan konsolidasi organisasi dengan membentuk DPD (Dewan Pimpinan Daerah) dan Dewan Pimpinan Kecamatan (DPK), konsolidasi program dan konsolidasi jaringan.

red24-(RG)

Surat dari RRC Bukti Ketidakpercayaan Investor

Oleh : Defiyan Cori
Ekonom Konstitusi

sorot24.id | JAKARTA – Tak berselang lama kami mempersoalkan kepercayaan (trust) dan jadwal ulang utang (rescheduling), terbitlah surat dari Kamar Dagang China di Indonesia kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Dalam surat tersebut, para pengusaha menyoroti berbagai kebijakan pemerintah dan beberapa kekhawatiran yang menyertainya. Salah satu diantaranya, yaitu keluhan (complaint) terkait kenaikan pajak dan royalti, pengetatan aturan devisa hasil ekspor (DHE), pengurangan kuota bijih nikel, hingga dugaan praktik penegakan hukum yang dinilai berlebihan serta membuka celah korupsi maupun pemerasan model baru.

Melalui surat itu, para pengusaha dan investor China tersebut juga menegaskan dukungan yang telah diberikan kepada pemerintah. Khususnya, kebijakan pemerintah Indonesia dalam menjalankan bisnis sesuai aturan hukum yang berlaku. Termasuk mengeklaim telah memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, penciptaan lapangan kerja, pengembangan industri hilir, serta tanggung jawab sosial (Corporate Social Responsibility/CSR).

Lalu, apakah tulisan yang mengingatkan pemerintah dari kami sebelumnya terkait menumbuhkan kepercayaan (trust) adalah sebuah kebetulan ? Atau memang sebenarnya kebijakan pemerintahlah yang mengakibatkan ketidakpercayaan (distrust) pihak lain di luar Indonesia yang tidak pernah serius dibenahi ? Yang lebih penting ditunggu publik tentunya adalah apa sikap dan tindak lanjut pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto atas surat dari Kadin China itu.

Kebijakan dan Iklim Investasi

Secara teknis administratif, surat itu juga mencermati perkembangan kebijakan pemerintah yang mutakhir. Diuraikan, bahwa perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Indonesia secara umum menghadapi persoalan serius, yaitu kebijakan investasi (regulasi) yang terlalu ketat. Selain itu, penegakan hukum berlebihan, bahkan korupsi dan pemerasan oleh otoritas terkait tidak pernah diselesaikan secara tuntas.

Artinya, kondisi yang telah dialami para pengusaha atau investor negara lain sungguh sangat serius. Sebab, secara nyata telah mengganggu operasi atau aliran kas (Cash Flow) normal perusahaannya. Sebagaimana yang kami ingatkan, bahwa masalah ini jelas merusak kepercayaan investasi jangka panjang. Dampaknya, menimbulkan keraguan atas kepastian keamanan dan kenyamanan investasi serta operasi bisnis mereka. Kekhawatiran ini akan semakin meluas di kalangan perusahaan investasi negara manapun terhadap lingkungan bisnis Indonesia di masa depan.

Salah satu sorotan utama dalam surat Kadin China itu adalah kenaikan pajak dan pungutan yang disebut terjadi berulang kali. Para investor China juga mengeluhkan pemeriksaan pajak yang makin intensif disertai ancaman denda sangat besar. Sangat layak dipertanyakan,apakah kebijakan dan model iklim yang berbiaya tinggi dan terlalu berbelitnya urusan perizinan akan terus dipertahankan oleh pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto ?

Oleh karena itu, Presiden RI Prabowo Subianto harus segera memastikan bahwa implementasi Visi-Misi Asta Cita khususnya dalam hal penguatan ideologi Pancasila (nomor 1) dijalankan sebagaimana mestinya. Pelaksanaan Sistem Ekonomi Konstitusi yang telah ditekadkan harus dibuktikan melalui perbaikan kebijakan dan iklim investasi termasuk personalia kabinet yang mendukungnya.

red24

Darurat Sampah Kabupaten Tangerang : TPS Ilegal Menjamur, Mesin Mangkrak, Armada Minim, sopir di peras dan Nasib Petugas Kebersihan Terabaikan

Oleh : Muhamamd Agus _ Ketua PGK (Perkumpulan Gerakan Kebangsaan)

sorot24.id | TANGERANG – Persoalan sampah di Kabupaten Tangerang saat ini semakin kompleks dan mencerminkan lemahnya tata kelola lingkungan hidup yang dilakukan oleh pemerintah daerah, khususnya oleh UPT yg mengelola sampah dan DLHK Kabupaten Tangerang. Permasalahan tersebut bukan hanya soal tumpukan sampah, tetapi juga menyangkut dugaan pembiaran TPS ilegal, mesin pengolahan sampah yang mangkrak, armada pengangkut yang tidak optimal, hingga persoalan kesejahteraan para petugas kebersihan yang masih jauh dari kata layak.

Maraknya TPS ilegal di berbagai wilayah Kabupaten Tangerang menjadi bukti bahwa pengawasan dan penindakan belum berjalan maksimal. Sampah rumah tangga maupun limbah non-rumah tangga terus dibuang sembarangan tanpa solusi nyata. Akibatnya, lingkungan tercemar, saluran air tersumbat, bau menyengat meresahkan masyarakat, dan ancaman penyakit semakin meningkat.

Di sisi lain, kami juga mempertanyakan keberadaan mesin pengolahan sampah yang telah dianggarkan menggunakan uang rakyat namun diduga tidak pernah digunakan secara maksimal oleh UPT maupun DLHK Kabupaten Tangerang.

Mesin yang seharusnya menjadi solusi pengurangan volume sampah justru terkesan mangkrak dan tidak memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Kondisi ini menimbulkan dugaan lemahnya perencanaan, minimnya evaluasi, serta tidak optimalnya pengawasan terhadap penggunaan anggaran daerah.

Permasalahan armada sampah juga menjadi sorotan serius. Banyak armada pengangkut sampah yang dinilai sudah tua, sering mengalami kerusakan, jumlahnya tidak sebanding dengan volume sampah harian, hingga menyebabkan keterlambatan pengangkutan di berbagai wilayah. Dampaknya, sampah menumpuk berhari-hari di lingkungan warga dan memperburuk kondisi kebersihan Kabupaten Tangerang.

Ironisnya, di tengah beratnya pekerjaan para petugas kebersihan dan sopir armada sampah yang setiap hari berjibaku dengan risiko kesehatan dan kondisi kerja yang berat, persoalan upah serta kesejahteraan masih menjadi keluhan. Banyak pihak menilai perhatian pemerintah terhadap petugas lapangan belum maksimal, padahal mereka merupakan garda terdepan dalam menjaga kebersihan daerah.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah di Kabupaten Tangerang bukan sekadar masalah teknis, melainkan sudah menjadi persoalan tata kelola, transparansi anggaran, dan keseriusan pemerintah daerah dalam melindungi lingkungan hidup serta hak masyarakat atas lingkungan yang sehat.

Pemerintah Kabupaten Tangerang khususnya DLHK harus segera melakukan evaluasi total terhadap sistem pengelolaan sampah, mulai dari :

  1. Penertiban TPS ilegal secara tegas
  2. Audit pengadaan dan penggunaan mesin pengolahan sampah
  3. Peremajaan dan penambahan armada pengangkut sampah
  4. Transparansi anggaran persampahan
  5. Peningkatan kesejahteraan petugas kebersihan dan sopir armada
  6. Pengawasan ketat terhadap kinerja UPT persampahan
  7. Berantas mafia armada

Jika tidak segera dibenahi, persoalan sampah dan kesejahteraan petugas kebersihan dan sopir sopir armada di Kabupaten Tangerang akan terus menjadi ancaman serius bagi lingkungan, kesehatan masyarakat, dan kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah.

red24