Kader HMI dalam Membangun Geopolitik Hijau dan Arsitektur Kepemimpinan Global Demi Kedaulatan Ekologi Masa Depan
Oleh : Muhamad Agus
sorot24.id | JAKARTA – Di tengah meningkatnya krisis iklim, degradasi lingkungan, konflik perebutan sumber daya alam, serta ketimpangan pembangunan global, paradigma geopolitik dunia sedang mengalami pergeseran yang fundamental. Jika selama ini geopolitik dipahami sebagai perebutan wilayah, kekuatan militer, dan dominasi ekonomi, maka abad ke-21 menuntut lahirnya geopolitik hijau (green geopolitics), yaitu tata kelola hubungan internasional yang menempatkan kelestarian lingkungan hidup sebagai fondasi utama keamanan, kesejahteraan, dan perdamaian dunia.
Indonesia sebagai negara megabiodiversitas memiliki posisi strategis dalam membangun peradaban ekologis. Namun, berbagai persoalan seperti deforestasi, pencemaran sungai, eksploitasi pertambangan, krisis sampah, hingga bencana hidrometeorologi menunjukkan bahwa pembangunan nasional masih menghadapi tantangan serius dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
Di sinilah kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dituntut untuk mengambil peran strategis sebagai agen perubahan. Sebagai organisasi kader yang berlandaskan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, HMI memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk melahirkan kepemimpinan yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan manusia, tetapi juga pada keberlanjutan ruang hidup.
Konsep geopolitik hijau menempatkan lingkungan sebagai bagian dari kepentingan strategis negara. Ketahanan energi, ketahanan pangan, ketahanan air, hingga konservasi keanekaragaman hayati kini menjadi instrumen utama dalam menentukan daya saing suatu bangsa. Oleh karena itu, kader HMI perlu mengembangkan cara pandang baru bahwa menjaga hutan, laut, sungai, dan sumber daya alam bukan sekadar agenda lingkungan, melainkan bagian dari menjaga kedaulatan negara.
Dalam perspektif Islam, manusia diamanahkan sebagai khalifah fil ardh yang bertugas memakmurkan bumi, bukan mengeksploitasinya secara berlebihan. Al-Qur’an melalui Surah Ar-Rum ayat 41 mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut merupakan akibat dari ulah manusia sendiri. Nilai teo-ekologis ini menjadi fondasi etik bagi kader HMI untuk membangun paradigma pembangunan yang berpihak pada keberlanjutan.
Lebih jauh, dunia membutuhkan arsitektur kepemimpinan global baru yang tidak lagi didominasi oleh kompetisi eksploitasi sumber daya, tetapi oleh kolaborasi menjaga bumi sebagai rumah bersama. Pemimpin masa depan harus mampu mengintegrasikan kebijakan ekonomi, diplomasi, teknologi, dan lingkungan dalam satu kerangka pembangunan berkelanjutan. HMI memiliki peluang besar mencetak kader yang mampu mengisi ruang-ruang strategis tersebut melalui penguatan kapasitas intelektual, kepemimpinan, serta advokasi kebijakan publik.
Sebagai organisasi kader, HMI perlu memperluas agenda perjuangannya dari isu demokrasi, ekonomi, dan sosial menuju isu-isu strategis seperti transisi energi, ekonomi hijau, keadilan iklim (climate justice), konservasi sumber daya alam, dan diplomasi lingkungan. Langkah ini sejalan dengan arah pembangunan nasional melalui implementasi ekonomi hijau, komitmen pencapaian Net Zero Emission 2060, serta penguatan pembiayaan berkelanjutan (sustainable finance).
Peran kader HMI dalam mewujudkan geopolitik hijau dapat diwujudkan melalui beberapa langkah konkret. Pertama, membangun literasi ekologis di lingkungan kampus dan masyarakat. Kedua, mengawal implementasi kebijakan pemerintah agar berpihak pada keberlanjutan lingkungan. Ketiga, mendorong lahirnya inovasi kewirausahaan hijau (green entrepreneurship) berbasis ekonomi sirkular. Keempat, memperkuat diplomasi pemuda dalam forum nasional maupun internasional terkait perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan. Kelima, mengintegrasikan nilai-nilai Islam, ilmu pengetahuan, dan teknologi dalam merumuskan solusi atas krisis lingkungan.
Krisis ekologis pada hakikatnya bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga krisis moral, etika, dan kepemimpinan. Karena itu, kader HMI tidak cukup menjadi pengamat, melainkan harus tampil sebagai pelopor transformasi menuju tata kelola lingkungan yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.
Masa depan Indonesia bahkan dunia akan sangat ditentukan oleh kemampuan generasi mudanya dalam membangun keseimbangan antara kemajuan ekonomi, keadilan sosial, dan kelestarian alam. Geopolitik hijau bukan lagi sekadar wacana akademik, melainkan sebuah keniscayaan bagi keberlangsungan peradaban manusia.
Sudah saatnya HMI mengambil posisi sebagai pelopor lahirnya kepemimpinan ekologis Indonesia. Dari ruang-ruang kaderisasi harus lahir pemimpin yang memiliki integritas, kecakapan intelektual, keberanian moral, serta visi global untuk memperjuangkan kedaulatan ekologi sebagai fondasi pembangunan bangsa. Sebab, menjaga bumi bukan hanya kewajiban ekologis, tetapi juga amanah konstitusi, amanah kemanusiaan, dan amanah keagamaan.
red24









