Opini  

Meneladani Spirit Empu : Di Mana Peran Perempuan Indonesia Hari Ini ?

Armenia Almatin, S.Pd., Gr. foto/dok : red24 .

Meneladani Spirit Empu : Di Mana Peran Perempuan Indonesia Hari Ini ?

Oleh : Armenia Almatin, S.Pd., Gr.

nalar24.id | TANGERANG – Delapan puluh satu tahun pasca-Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta Pusat, pertanyaan mendasar kembali mengemuka: di manakah posisi, sumbangsih, dan suara perempuan Indonesia hari ini ?

Kemerdekaan sejati tidak hanya bermakna bebas dari penjajahan, tetapi juga ditentukan oleh sejauh mana perempuan merasakan kesetaraan dan kedaulatan.

Secara etimologis, kata “perempuan” berakar dari empu, yang dalam bahasa Jawa Kuno merujuk pada sosok mulia, terhormat, mandiri, serta memiliki daya dan kendali atas dirinya sendiri.

Sejarah membuktikan bahwa perempuan selalu menjadi pilar tak tergantikan dalam merebut dan mengisi kedaulatan bangsa.

Di bumi Tangerang, semangat kepemimpinan perempuan telah terukir sejak masa kolonial. Nyi Mas Melati, yang dijuluki Singa Betina dari Tangerang, berdiri di garis depan melawan penindasan sistem tuan tanah. Bersama tokoh nasional seperti Cut Nyak Dhien dan Maria Ullfah, keberanian mereka membakar semangat pergerakan dari akar rumput.

Kini, di era modern, medan juang perempuan telah bergeser. Musuh yang dihadapi bukan lagi meriam penjajah, melainkan ketimpangan ekonomi, kebodohan, dan keterbatasan ruang bertumbuh.

Dalam mengisi kemerdekaan saat ini, pergerakan perempuan – khususnya di Kota Tangerang dan Cisadane – terwujud dalam tiga peran utama :

Pendidik Generasi dan Penanam Karakter

Sebagai arsitek utama pencetak generasi penerus, perempuan menanamkan nilai moral, etika, dan ketangguhan karakter di ruang kelas maupun rumah tangga.

Penggerak Ekonomi Lokal

Melalui perintisan UMKM, pengelolaan potensi lokal, dan pembukaan lapangan kerja, perempuan menjadi motor penggerak ketahanan ekonomi keluarga dan nasional.

Pemimpin yang Berdampak

Kehadiran perempuan di ranah publik membawa perspektif inklusif dan solutif dalam pengambilan kebijakan strategis.

Tantangan dan Harapan ke Depan
Kendati demikian, pemberdayaan perempuan masih diuji oleh berbagai tantangan nyata. Beban ganda akibat stereotipe lama masih menuntut perempuan tampil sempurna di ranah publik tanpa boleh mengendurkan tanggung jawab domestik. Selain itu, stigma bahwa kiprah perempuan hanyalah “pelengkap” masih menjadi pembatas potensi mereka.

Untuk mewujudkan kemandirian sejati, perempuan membutuhkan lebih dari sekadar apresiasi verbal. Diperlukan akses nyata terhadap permodalan usaha, literasi teknologi digital, serta jaminan perlindungan hukum yang tegas dari diskriminasi dan kekerasan.

Kemajuan Kota Tangerang dan Indonesia secara keseluruhan tidak akan berdiri utuh tanpa menghapus stigma dan membuka ruang bertumbuh yang adil bagi perempuan. Merawat daya cipta perempuan bukan sekadar seruan, melainkan komitmen nyata untuk menenun masa depan bangsa menuju kejayaannya.

red24

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *