Pelatih Como 1907 Cesc Fabregas menenangkan pemainnya usai laga Serie A 2025/2026. Di bawah Fabregas, Como dari tim promosi melesat ke zona Eropa. Antonio Cassano menyebut Fabregas “terlalu jago” untuk sepak bola Italia. (Dok:AFP/PIERO CRUCIATTII mages/Sorot24.id)

sorot24.id|MILAN – Legenda sepak bola Italia Antonio Cassano melontarkan pernyataan mengejutkan soal Cesc Fabregas. Mantan striker Inter Milan itu justru berharap pelatih Como 1907 segera meninggalkan Serie A karena dianggap “terlalu jago” untuk sepak bola Italia.

Sejak ditangani Cesc Fabregas, Como 1907 menjelma dari tim promosi menjadi kuda hitam Serie A. Skuad yang didominasi pemain muda itu kini dipastikan finis enam besar dan minimal tampil di Liga Konferensi Eropa musim depan.

Meski cemerlang, Fabregas justru diminta pergi oleh Antonio Cassano. “Saya sejujurnya berharap dia bisa meninggalkan Italia. Soalnya negara ini tidak pantas mendapatkan dia, kita adalah bahan tertawaan,” ujar Cassano dikutip dari _Calciomercato_.

“Sepak bola di sini terkatung-katung, saya berharap dia bisa pergi,” tambahnya.

Cassano menilai peran Fabregas sangat krusial membawa Como jadi tim besar. “Pekerjaan yang dilakukan Fabregas telah membuat Como menjadi sebuah tim besar. Dengan pelatih lain, Como tidak akan meraih hasil seperti ini,” katanya.

“Kemampuan komunikasinya, keahliannya. Dia pernah menjadi pemain top dan sebagai pelatih, dia sudah menjadi fenomena yang sensasional. Perekat paling penting adalah pelatihnya, 95% pemain Como harus berterima kasih kepada Cesc,” tegas eks Real Madrid itu.

Bagi Cassano, Fabregas adalah pelatih berkualitas yang jarang ditemukan di Italia. Meski kontrak Fabregas di Como berlaku hingga 2028, sejumlah klub top Eropa dikabarkan tertarik merekrutnya.

Namun, Fabregas berulang kali menyatakan kesetiaannya. “Saya masih punya 30 tahun lagi dalam karier saya, jadi bisa tetap di Como selama 10 tahun lagi dan pindah ke Premier League dalam 12 atau 15 tahun lagi,” ucapnya dikutip _TuttoMercatoWeb_.

“Jadi mari nikmati saja momen ini. Apa yang kami alami di Como sangat indah. Mari kita lihat apa yang akan terjadi di masa depan,” tandas Fabregas.

Keberhasilan Como mengamankan tiket Eropa musim depan jadi prestasi besar dalam sejarah klub. Sejak promosi ke Serie A musim lalu, _I Lariani_ perlahan membuktikan kualitasnya hingga mampu bersaing di papan atas.

red24

Leandro Trossard selebrasi usai mencetak gol tunggal kemenangan Arsenal 1-0 atas West Ham di London Stadium, Minggu 10/5/2026. Gol itu membuat Arsenal selangkah lagi kunci gelar Premier League pertama sejak 2004. (Sorot24.id)

sorot24.id – LONDON – Arsenal selangkah lagi mengakhiri puasa gelar Premier League selama 22 tahun. Kemenangan 1-0 atas West Ham United, Minggu 10/5/2026, membuat _The Gunners_ bisa mengunci titel juara paling cepat pada Selasa 19/5/2026 dini hari WIB.

Gol tunggal Leandro Trossard di London Stadium, ditambah dianulirnya gol Callum Wilson, memastikan Arsenal pulang dengan tiga poin krusial. Tim asuhan Mikel Arteta kini nyaman di puncak klasemen dengan 79 poin dari 36 laga, unggul 5 poin dari Manchester City yang baru main 35 kali.

Skenario Tercepat: Juara vs Burnley

Laga Arsenal vs Burnley, Selasa 19/5/2026 pukul 02.00 WIB, bisa jadi partai penentuan. Syaratnya: Manchester City gagal menang lawan Crystal Palace pada Kamis 14/5/2026 pukul 02.00 WIB. Jika City seri atau kalah dari Palace, maka kemenangan atas Burnley langsung bikin Arsenal juara.

Sebab, Arsenal akan unggul 7-8 poin dari City dan tak mungkin disalip Erling Haaland dkk dengan dua laga sisa. Ini jadi skenario tercepat _The Gunners_ angkat trofi.

Skenario Kedua: Tunggu Bournemouth vs City

Jika City menang lawan Palace tapi gagal kalahkan Bournemouth pada Rabu 20/5/2026 pukul 01.30 WIB, Arsenal juga bisa juara lebih cepat. Syaratnya tetap: Arsenal harus kalahkan Burnley dulu.

Namun jika City sapu bersih Palace dan Bournemouth, penentuan gelar baru terjadi di pekan terakhir, terlepas hasil Arsenal vs Burnley.

Akhiri Puasa 22 Tahun

Arsenal terakhir kali juara Premier League pada 2004 di era _Invincibles_ Arsene Wenger. Kini, setelah 22 tahun, Mikel Arteta berpeluang mengulang sejarah.

Kemenangan atas West Ham membuat publik Emirates mulai berhitung. Dengan City masih punya tabungan 1 laga, semua mata kini tertuju ke Selhurst Park saat Palace menjamu City Kamis dini hari nanti.

red24-(BGX)

Skuad Arsenal merayakan keberhasilan lolos ke final Liga Champions usai singkirkan Atletico Madrid dengan agregat 2-1. The Gunners buka jalan dominasi Inggris di Eropa musim ini, selangkah lagi raih trofi UCL perdana. (Dok: UEFA/Sorot24.id)

sorot24.id|London – Klub-klub Inggris mencatat sejarah baru di kompetisi Eropa musim ini. Untuk pertama kalinya, wakil Premier League berhasil mencapai final di tiga turnamen antarklub UEFA dalam satu musim yang sama: Liga Champions, Liga Europa, dan Conference League.

Arsenal Jadi Pembuka Jalan di Liga Champions

Arsenal menjadi tim pertama yang memastikan tempat di final Liga Champions usai menyingkirkan Atletico Madrid dengan agregat 2-1. Tim asuhan Mikel Arteta menang 1-0 di Emirates dan imbang 1-1 di Wanda Metropolitano.

Keberhasilan itu menjadi pencapaian besar bagi The Gunners yang dalam beberapa musim terakhir terus berkembang di bawah Arteta. Arsenal kini tinggal selangkah lagi untuk meraih trofi Liga Champions pertama mereka.

Aston Villa ke Final Liga Europa via Comeback
Tidak lama berselang, Aston Villa memastikan tiket ke final Liga Europa setelah membalikkan keadaan secara impresif melawan Nottingham Forest. Sempat kalah 0-1 pada leg pertama, tim racikan Unai Emery bangkit dan menang agregat 4-1.

Villa tampil dominan pada leg kedua dan memastikan tempat di final yang akan digelar di Istanbul pada 20 Mei mendatang. Mereka akan menghadapi wakil Bundesliga, Freiburg. Keberhasilan ini memperlihatkan kapasitas Emery sebagai salah satu pelatih paling berpengalaman di kompetisi Eropa. Villa kini memiliki peluang meraih trofi Eropa pertama mereka dalam beberapa dekade terakhir.

Crystal Palace Lanjutkan Kisah Sensasional

Di saat bersamaan dengan keberhasilan Aston Villa, Crystal Palace juga memastikan tempat di final Conference League. Klub asal London tersebut mengalahkan Shakhtar Donetsk dengan agregat 5-2.

Palace sebelumnya menang 3-1 pada leg pertama sebelum kembali menang 2-1 di Selhurst Park. Hasil itu membawa mereka ke final Conference League menghadapi Rayo Vallecano pada 27 Mei.

Conference League sendiri baru diperkenalkan UEFA lima tahun lalu sebagai kompetisi antarklub Eropa ketiga setelah berakhirnya era Cup Winners’ Cup pada 1999. Meski masih tergolong baru, turnamen ini kini memberi peluang lebih besar bagi klub-klub nonelite untuk bersaing di level kontinental.

Inggris Pernah Dominan, tapi Belum Seperti Sekarang

Sebelum musim ini, Premier League sebenarnya beberapa kali hampir menguasai seluruh final Eropa. Pada 2019 misalnya, Liverpool mengalahkan Tottenham di final Liga Champions, sementara Chelsea menundukkan Arsenal di final Liga Europa.

Dua tahun kemudian, Chelsea kembali menjadi juara Liga Champions setelah mengalahkan Manchester City di final sesama klub Inggris. Pada musim yang sama, Manchester United juga mencapai final Liga Europa meski akhirnya kalah.

Meski begitu, belum pernah sebelumnya Inggris memiliki wakil di tiga final kompetisi berbeda sekaligus. Itulah yang membuat pencapaian musim ini terasa istimewa.

Catatan serupa terakhir kali terjadi pada era 1980-an. Pada 1984, Liverpool memenangkan European Cup usai mengalahkan AS Roma, sementara Tottenham menjuarai UEFA Cup setelah menundukkan Anderlecht. Liverpool juga pernah menjuarai European Cup pada 1981 setelah mengalahkan Real Madrid di Paris. Di tahun yang sama, Ipswich Town sukses memenangkan UEFA Cup dengan mengalahkan AZ Alkmaar.

red24

Jeremy Doku merayakan gol penyeimbang 3-3 pada menit ke-97 saat Manchester City imbang lawan Everton di Hill Dickinson Stadium, Selasa 5/5/2026 dini hari WIB. Gol telat Doku selamatkan City dari kekalahan usai sempat tertinggal 1-3. (AP Photo/Sorot24.id)

 

LIVERPOOL|sorot24.id– Manchester City harus puas membawa pulang satu poin setelah bermain imbang 3-3 melawan Everton di Hill Dickinson Stadium, Selasa 5/5/2026 dini hari WIB. Gol Jeremy Doku pada menit ke-97 menyelamatkan The Citizens dari kekalahan setelah sempat tertinggal 1-3. Hasil ini membuat jarak City dengan Arsenal di puncak klasemen Premier League melebar menjadi lima poin.

Sejak awal pertandingan, tempo permainan langsung tinggi dengan tekanan dari tim tamu. Rayan Cherki dan Antoine Semenyo sempat mengancam gawang Jordan Pickford, meski upaya mereka belum membuahkan hasil. Everton bertahan disiplin dan mampu meredam dominasi City.

Tuan rumah sesekali membalas lewat serangan balik cepat yang cukup berbahaya. Kiernan Dewsbury-Hall dan Beto nyaris membuka keunggulan, tetapi Gianluigi Donnarumma tampil sigap di bawah mistar. Penyelamatan-penyelamatannya menjaga City tetap dalam permainan.

Kebuntuan akhirnya pecah jelang turun minum. Umpan tarik Rayan Cherki disambut sepakan melengkung Jeremy Doku dari luar kotak penalti yang tak mampu dihentikan Pickford. City menutup babak pertama dengan keunggulan tipis 1-0.

Blunder Fatal Marc Guehi

Reaksi Bernardo Silva (kanan) dan pemain Manchester City setelah kebobolan lawan Everton, 5 Mei 2026. (c) AP Photo/Dave Thompson (sorot24.id)

Memasuki babak kedua, City tetap menguasai permainan dengan tempo cepat. Everton mencoba mencuri peluang lewat serangan balik, termasuk melalui Iliman Ndiaye yang sempat mengancam. Namun, Donnarumma kembali menjadi penyelamat dalam situasi satu lawan satu.

Masalah muncul dari kesalahan sendiri di lini belakang. Marc Guehi melakukan back pass yang lemah dan langsung dimanfaatkan Thierno Barry untuk mencetak gol penyama kedudukan 1-1. Gol tersebut memengaruhi kepercayaan diri pemain City.

Sebaliknya, Everton justru semakin berani menekan dan mulai mendominasi duel-duel penting di lapangan. The Toffees berbalik unggul pada menit ke-70 melalui situasi bola mati. Jake O’Brien menyambut umpan James Garner dengan sundulan yang tak mampu dibendung Donnarumma. Sorakan penonton langsung memenuhi stadion.

Keunggulan itu bertambah setelah Thierno Barry mencetak gol keduanya. Ia memanfaatkan bola muntah hasil penetrasi Merlin Rohl untuk mengubah skor menjadi 3-1. City berada dalam tekanan besar.

Harapan dari Haaland, Doku Jadi Juru Selamat

Harapan tim tamu muncul ketika Erling Haaland mencetak gol balasan. Ia lolos dari jebakan offside dan menaklukkan Pickford dengan tendangan cungkil. Skor 3-2 membuat City terus menekan demi mengejar ketertinggalan.

Memasuki injury time, tekanan City semakin intens dan memaksa Everton bertahan total. Kekalahan akan semakin menjauhkan peluang mereka dalam perebutan gelar. Seluruh pemain tuan rumah fokus menjaga area pertahanan.

Pada menit ke-97, Jeremy Doku kembali menjadi penentu. Ia memanfaatkan situasi sepak pojok dan melepaskan tembakan keras ke sudut gawang. Gol tersebut menyamakan kedudukan 3-3 sekaligus menyelamatkan City.

Hasil imbang ini tetap terasa merugikan bagi City dalam perburuan gelar. Selisih poin dengan Arsenal menjadi 5 poin dengan satu pertandingan di tangan. Mampukah Man City menjegal The Gunners di sisa musim ini, atau justru Arsenal yang berpesta dan tersenyum di akhir kompetisi?

Susunan Pemain

*Everton*: Pickford, O’Brien, Keane, Tarkowski, Mykolenko, Garner, Iroegbunam, Rohl, Dewsbury-Hall, Ndiaye, Beto
*Cadangan*: Travers, Patterson, McNeil, Barry, George, Dibling, Coleman, Alcaraz, Armstrong

*Manchester City*: Donnarumma, Nunes, Khusanov, Guehi, O’Reilly, Nico, Bernardo, Semenyo, Cherki, Doku, Haaland
*Cadangan*: Trafford, Reijnders, Stones, Ake, Marmoush, Kovacic, Ait-Nouri, Savinho

red24