foto ilustrasi tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat
sorot24.id |JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali terpuruk ke level terlemah sepanjang April 2026. Pada penutupan pasar spot Kamis 30 April 2026, mata uang Garuda ditutup melemah Rp20 atau 0,12 persen ke posisi Rp17.346/US$.
Ini menjadi pelemahan tiga hari berturut-turut bagi rupiah. Dalam sepekan terakhir, rupiah sudah melemah 0,35 persen. Sementara sejak awal 2026, depresiasi rupiah tercatat hampir 4 persen dari posisi Rp16.680/US$ di awal tahun.
Kurs Jisdor Bank Indonesia atau BI juga mencatat pelemahan lebih dalam. Rupiah melemah Rp54 atau 0,31 persen ke level Rp17.378/US$. Secara mingguan turun 0,40 persen, dan sejak awal tahun sudah anjlok 3,93 persen dari Rp16.720/US$.
*Tekanan dari Fiskal dan Inflasi*
Tekanan terhadap rupiah dipicu dua faktor utama, yakni kekhawatiran pasar terhadap defisit fiskal serta meningkatnya inflasi. Kenaikan harga minyak dunia akhir April 2026 ikut memicu potensi kenaikan harga barang.
Di sisi lain, pemerintah menahan harga BBM bersubsidi sehingga berpotensi menambah beban anggaran subsidi energi. Indonesia masih berstatus net importir energi dengan ketergantungan impor minyak yang tinggi.
Meski neraca perdagangan nonmigas masih surplus, sektor migas tetap defisit. Akibatnya permintaan dolar AS meningkat signifikan di akhir April untuk pembayaran impor dan repatriasi dividen perusahaan.
*Cadangan Devisa Dinilai Kecil*
Peneliti Center of Macroeconomics and Finance Indef, Abdul Manap Pulungan, menyebut cadangan devisa Indonesia per Maret 2026 berada di level yang dinilai cukup kecil yakni 148,2 miliar dollar AS.
“Memang salah satunya yang harus dilakukan selain intervensi di pasar adalah BI, Kemenkeu, dan KSSK dapat memberikan sinyal yang positif, bukan yang hanya narasi,” kata Pulungan.
Menurut dia, masalah rupiah bukan hanya dari sisi moneter, tetapi juga fiskal hingga ketahanan energi. Kondisi ini membuat investor urung mengkoleksi portofolio dari Tanah Air.
“Ini menjadi sinyal bagi pemerintah, tingkat kepercayaan investor global sedang menurun yang terlihat dari bagaimana investor melepas portofolio di dalam negeri,” imbuhnya.
*Mata Uang Asia Ikut Melemah*
Di kawasan Asia, sejumlah mata uang juga tertekan. Ringgit Malaysia melemah 0,60 persen, dolar Taiwan turun 0,31 persen, dan rupee India melemah 0,11 persen secara harian.
Namun secara tahunan, rupiah masih lebih baik dibanding rupee India yang melemah 5,52 persen maupun peso Filipina yang turun 4,12 persen. Adapun indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar terhadap mata uang utama dunia melemah 0,16 persen ke level 98,80.
Red24





