Muharram Melawan : Hingar-Bingar Infrastruktur Impunitas
Oleh : Kholil Umami (Ketua PK PMII Komfuspertum Cabang Ciputat)
sorot24.id | BANTEN – Dalam momentum tahun baru yang penuh haru dan syahdu ini, mari sejenak menengok sejarah lama. Sebuah kisah yang belakangan jarang diperbincangkan publik karena beranda media sosial kita telanjur dipenuhi poster ucapan selamat yang artifisial, tren pawai obor yang kehilangan spirit perjuangan, serta ritual keagamaan yang acuh terhadap kegelisahan rakyat.
Di balik kemeriahan simbolik tersebut, ada pertanyaan substantif yang harus kita renungkan bersama : Apakah hijrah benar-benar menjadi inspirasi perubahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, atau kita hanya sibuk dengan perayaan tanpa keberanian mengubah keadaan ?
Jika menoleh ke belakang, hijrah yang menjadi fondasi kalender Islam bukanlah peristiwa seremonial. Hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW adalah tindakan revolusioner untuk keluar dari sistem yang zalim menuju tatanan yang lebih adil dan bermartabat.
Sebagai agama yang selalu berdialektika dengan realitas sosial, Islam tidak mengajarkan umatnya mandek dalam ritual. Maka, tahun baru Hijriah tidak boleh sekadar diperingati sebagai seremonial tahunan yang berlalu tanpa makna. Ia harus menjadi momentum perjuangan untuk membangkitkan kembali kepekaan sosial, memperkuat solidaritas, dan meneguhkan keberpihakan kepada kaum yang tertindas (mustadh’afin).
Ironisnya, hari ini makna hijrah mengalami reduksi yang dangkal. Ia dipersempit menjadi urusan ritual semata: memperindah tempat ibadah, menjinakkan kegelisahan jemaah dengan narasi pasrah, memperbanyak konten religius, atau sekadar menulis resolusi pribadi.
Sementara pada saat yang sama, kita disuguhi realitas yang kontras:
Ketimpangan ekonomi yang semakin menganga. Harga kebutuhan pokok yang mencekik. Lapangan kerja yang kian menyempit.Ruang demokrasi yang terasa semakin sesak.
Bagi rakyat kecil, kondisi ini bukan sekadar angka dalam laporan statistik ekonomi, melainkan penderitaan nyata yang harus mereka perjuangkan setiap harinya. Kita sedang hidup di tengah paradoks besar. Bangsa ini kaya raya, tetapi rakyatnya hidup di bawah garis kemiskinan. Negeri ini dipenuhi jargon kemajuan, tetapi generasi mudanya kehilangan kepastian masa depan. Kita bangga dengan angka pertumbuhan, tetapi lupa bertanya: bertumbuh untuk siapa ?
Jika hijrah hanya dimaknai sebagai perpindahan individu dari buruk menjadi baik, kita akan kehilangan separuh pesan sejarahnya. Hijrah Nabi adalah perpindahan sosial-politik—dari penindasan menuju keadilan, dari dominasi segelintir elite menuju masyarakat yang berdaulat.
Oleh karena itu, refleksi Muharram tahun ini harus melangkah lebih jauh dari sekadar evaluasi diri (muhasabah individu). Ia harus bertransformasi menjadi evaluasi kritis terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pertanyaannya :
Sudahkah para pemangku kebijakan berhijrah dari politik transaksional menuju politik pengabdian ?
Sudahkah para pejabat berhijrah dari keserakahan menuju kemaslahatan publik (maslahah ‘ammah) ?
Sebab dari tahun ke tahun, dari periode ke periode – mulai dari gaya politik blusukan ke gorong-gorong hingga kunjungan megah ke mancanegara – para penguasa kerap menyikapi keresahan rakyat layaknya kluruk (kokok) ayam jago di pagi hari,sekadar lewat, bising, lalu dilupakan.
Seharusnya, momentum hijrah menjadi ruang untuk merombak cara pandang dan sikap. Mengubah kekuasaan yang korup menjadi kepemimpinan yang adil, mengubah kebijakan yang buta dan tuli menjadi ruang yang mau melihat dan mendengar.
Rakyat tidak menuntut pemimpinnya menjadi manusia sempurna tanpa cela. Mereka hanya ingin pemimpin yang tidak kehilangan telinga untuk mendengar, tidak kehilangan mata untuk melihat, dan tidak kehilangan hati untuk mengerti. Di tengah himpitan hidup yang kian berat, yang dirindukan rakyat bukanlah pidato yang menggebu-gebu, melainkan kehadiran dan kepedulian yang nyata.
red24
