Menyalakan Obor di Tengah Kerumunan

oleh -3 Dilihat
oleh

Menyalakan Obor di Tengah Kerumunan

Oleh : Ocit Abdurrosyid Siddiq
 {Alumnus MI dan MTs Mathla’ul Anwar Binuangeun}

sorot24.id | Di cakrawala pemikiran Islam Nusantara, kita sering kali terjebak dalam dikotomi yang melelahkan. Kita dipaksa memilih antara pembaruan yang radikal atau tradisi yang mapan. Namun, di antara arus besar yang kerap membenturkan kepentingan, terdapat satu titik hening yang menawarkan keindahan dialektika : Mathla’ul Anwar.

Sebagai seorang yang bergelut dalam dunia filsafat dan memegang amanah di komunitas linguistik Banten, saya sering tertegun merenungi sebuah jargon sederhana namun sarat makna :

“Teu ngantik mareuman obor boga batur, Caangan baé obor boga sorangan”

Kalimat ini bukan sekadar pepatah, melainkan sebuah aksioma eksistensial yang mendefinisikan jati diri seorang kader Mathla’ul Anwar di tengah keberagaman Indonesia.

Mari kita sejenak menarik napas dalam, membiarkan pikiran kita melayang melampaui sekat-sekat organisasi. Bukankah sering kali kita merasa perlu meredupkan cahaya orang lain agar kita sendiri terlihat lebih benderang ? Dalam dunia yang haus akan pengakuan, perilaku memadamkan “obor” milik sesama – baik itu melalui kritik yang destruktif, prasangka, atau superioritas organisasi – telah menjadi semacam penyakit sosial.

Kita begitu sibuk menghitung kekurangan orang lain hingga lupa bahwa obor kita sendiri justru meredup karena kelalaian kita dalam memelihara apinya. Di titik inilah, jargon Mathla’ul Anwar hadir sebagai antitesis yang menyegarkan sekaligus menampar nurani kita yang pongah. Filosofi ini mengajarkan kita tentang kemandirian dan integritas yang otonom.

Bahwa kemuliaan seseorang atau sebuah gerakan tidak ditentukan oleh seberapa sukses ia menjatuhkan pihak lain, melainkan oleh seberapa konsisten ia menjaga substansi dirinya sendiri. Ini sejalan dengan prinsip yang pernah ditekankan oleh para pendahulu kita, bahwa seorang mukmin sejati adalah ia yang sibuk memperbaiki aibnya sendiri daripada mencari-cari aib orang lain.

Sebagaimana pepatah Arab menyebutkan, – man ashlaha sariratahu ashlahallahu ‘alaniyatahu – barangsiapa memperbaiki kualitas batinnya, niscaya Allah akan memperbaiki kualitas lahiriahnya. Mathla’ul Anwar memilih jalan itu : fokus pada peningkatan kualitas diri, pendidikan, dan kemaslahatan umat tanpa harus merasa terancam oleh eksistensi pihak lain.

Dalam ekosistem keislaman Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama adalah dua pilar raksasa yang telah memberikan warna tak terhingga. Muhammadiyah, dengan semangat tajdid-nya, dan NU, dengan napas tradisi yang mendalam, adalah obor-obor besar yang menyinari bangsa ini. Kader Mathla’ul Anwar memandang keduanya dengan kacamata hormat.

Kita tidak perlu usil dengan gaya Muhammadiyah, pun tidak perlu menggugat cara NU. Sebab, cahaya mereka adalah pelengkap bagi kegelapan yang sama-sama ingin kita tiadakan. Bukankah Allah berfirman dalam Al-Qur’an, – li kullin ja’alna minkum syir’atan wa minhaja – (untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang) ?

Perbedaan cara adalah sebuah keniscayaan, sebuah rahmat yang seharusnya membuat kita semakin bijak.

Sikap “di tengah” yang diambil Mathla’ul Anwar bukanlah sikap yang gamang atau tanpa pendirian. Sebaliknya, ini adalah posisi yang sangat strategis dan dewasa. Jika kita menilik pada mekanisme Majelis Fatwa di Mathla’ul Anwar, kita akan menemukan sebuah wajah keislaman yang egaliter dan argumentatif.

Di sini, fatwa bukanlah perintah mutlak yang membelenggu nalar, melainkan hasil kajian berbagai mazhab yang disajikan dengan penuh kerendahan hati. Keputusan akhir diberikan kepada setiap anggota untuk memilih mana yang paling mashlahah. Inilah yang saya sebut sebagai demokrasi epistemologis, sebuah proses yang mendidik kader untuk menjadi intelektual organik yang merdeka, bukan pengikut buta yang hanya tahu mengangguk.

Seorang kader Mathla’ul Anwar yang matang secara keilmuan tidak akan merasa gentar dengan perbedaan. Justru dalam perbedaan itu, ia menemukan bahan bakar untuk mengasah nalar kritisnya. Sikap egaliter ini lahir dari kesadaran bahwa kebenaran itu luas, dan akal manusia sering kali memiliki keterbatasan.

Imam Syafi’i dalam ketajaman intelektualnya pernah bertutur, – ra’yi shawab yahtamilu al-khatha’, wa ra’yu ghairi khatha’ yahtamilu al-shawab –  (pendapatku benar namun mungkin salah, dan pendapat orang lain salah namun mungkin benar). Kerendahan hati seperti inilah yang membuat kader Mathla’ul Anwar tampak lebih berkelas; mereka bicara berdasarkan argumen, bukan berdasarkan sentimen atau kesetiaan membabi buta.

Lantas, mengapa kita masih sering terjebak dalam sikap permusuhan ? Barangkali karena kita belum sepenuhnya memahami bahwa obor kita sendiri sangatlah berharga. Dalam perspektif filsafat, setiap individu adalah entitas yang unik dan memiliki tanggung jawab atas cahayanya masing-masing. Ketika kita mencoba memadamkan obor orang lain, kita sebenarnya sedang mengakui ketidakmampuan kita sendiri dalam menjaga api kita agar tetap menyala.

Kegelapan di sekitar kita bukanlah tanggung jawab orang lain untuk dihilangkan, melainkan tantangan bagi kita semua untuk menyalakan pelita sebanyak-banyaknya. Semakin banyak obor yang menyala, semakin terang peradaban kita.

Sebagai masyarakat Sunda Banten yang lekat dengan nilai – silih asah, silih asih, dan silih asuh, – saya melihat jargon Mathla’ul Anwar ini sebagai puncak dari nilai-nilai tersebut. Ia mengajak kita untuk silih asah dalam kebaikan tanpa harus silih asah dalam pertikaian. Kita diajak untuk menumbuhkan kualitas diri agar mampu menjadi rahmatan lil ‘alamin.

Dunia tidak butuh lebih banyak pembenci yang berlabel agama, dunia butuh lebih banyak orang yang mampu menyalakan cahaya di kegelapannya sendiri dan menuntun orang lain dengan kasih sayang.

Apakah selama ini kita telah menjadi pembawa obor yang sejati ? Atau justru kita adalah pengembara yang hanya sibuk meniup api milik orang lain hingga padam, lalu merasa bangga di tengah kegelapan yang kita ciptakan sendiri ? Pertanyaan ini bukanlah untuk menjatuhkan, melainkan untuk membangun kesadaran kolektif.

Menjadi kader Mathla’ul Anwar berarti memiliki keberanian untuk berdiri di tengah, tidak terjepit, justru menjadi penyeimbang yang mampu melihat kebenaran dari berbagai sudut pandang tanpa kehilangan jati diri.
Sikap cair dan egaliter yang menjadi stereotip kader Mathla’ul Anwar adalah buah dari kedewasaan berpikir. Ia tidak merasa perlu mendebat setiap perbedaan pendapat dengan kemarahan, karena ia tahu bahwa di balik perbedaan itu terdapat ruang kemaslahatan yang luas.

Dalam setiap langkahnya, seorang kader MA sadar bahwa ia sedang membawa amanah besar: amanah untuk menjadi cerdas, amanah untuk menjadi bijak, dan amanah untuk menjadi penyulut cahaya di tengah masyarakat yang sering kali terpecah oleh kepentingan pragmatis.

Di tanah Banten yang historis ini, kita telah belajar banyak tentang ketangguhan. Kita ditempa oleh sejarah dan tradisi untuk menjadi manusia yang berakar namun tetap berpikiran terbuka. Mathla’ul Anwar adalah rumah bagi nalar yang merdeka.

Di sana, kita tidak diajarkan untuk menjadi pengikut yang pasif, melainkan intelektual yang berani bertanggung jawab atas setiap pilihan kemaslahatannya. Kita adalah mereka yang memilih untuk terus bergerak maju, menyalakan obor-obor kecil yang jika dikumpulkan akan menjadi cahaya raksasa bagi masa depan umat Islam di Indonesia.

Biarkanlah pihak lain dengan gayanya, biarkanlah orang lain dengan jalannya. Kita memiliki tugas yang jauh lebih mulia: memelihara obor diri sendiri agar tetap bernyala, mengasah intelektualitas, dan menyebar kemaslahatan. Jangan biarkan energi kita habis untuk mengurusi obor orang lain. Cukuplah kita fokus menjadi pribadi yang lebih baik, lebih argumentatif, dan lebih egaliter setiap harinya.

Karena kelak yang akan dihitung bukanlah seberapa banyak obor orang lain yang berhasil kita padamkan, melainkan seberapa terang jalan yang kita sediakan bagi mereka yang sedang mencari petunjuk di tengah kegelapan zaman. Wallahualam.

Rabu, 24 Juni 2026
Pengadilan Negeri Jakarta Pus

red24

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *